Sejumlah orang Indonesia tercatat benar-benar membangun nama dan berkarir di Jerman, bukan sekadar memiliki garis keturunan. Lima sosok yang paling representatif adalah Raden saleh pelukis abad ke-19 yang menjadi “Duta Budaya Indonesia” pertama di Eropa. B.J. Habibie Wakil Presiden Direktur Teknologi di perusahaan pesawat terbang MBB. Johny Setiawan, astronom penemu lebih dari 10 planet di Max Planck Institute for Astronomy. Hutomo Suryo Wasisto, pemimpin riset nanoteknologi di TU Braunschweig dan Kevin Diks bek Timnas Indonesia yang bermain untuk Borussia Mönchengladbach di Bundesliga.
1. Raden Saleh – Pelukis Pertama Indonesia yang Mendunia dari Dresde
Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880) adalah pelukis Jawa yang menetap dan berkarir di Dresden, Jerman. Selama hampir satu dekade 1839-1849) dan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Berlin disebut sebagai “Duta Budaya Indonesia Pertama” di Eropa. Raden Saleh lahir di Semarang dari Keluarga bangsawan Jawa. Bakatnya ditemukan oleh pelukis Belgia, Joseph Payen yang kemudian mengantarkannya belajar seni ke Belanda dengan biaya dari pemerintah Hindia Belanda.
Setelah lima tahun belajar di Belanda, ia melanjutkan perjalanan ke Jerman dan singgah di Düsseldorf, Frankfurt, dan Berlin sebelum akhirnya menetap di Dresden. Menjadi tamu kehormatan Kerajaan Jerman, sehingga diberi izin tinggal hingga lima tahun. Bergaul dengan tokoh seni dan sastra besar Eropa, termasuk Ludwig Tieck, Robert dan Clara Schumann, serta Hans Christian Andersen. Mempelajari aliran lukisan romantisme Jerman dan menguasai bahasa Jerman. Meninggalkan jejak fisik berupa Blaues Häusel (paviliun kecil) dan Masjid Kubah Biru di kawasan Maxen, hingga saat ini masih berdiri sebagai ikon wisata.
Karyanya kini tersimpan di lebih dari 45 museum di seluruh dunia, termasuk Museum Albertinum Dresden, yang pada 2020 menambah koleksi lukisan Raden Saleh berjudul Winterlandschaft bei Maxen. Lukisan paling terkenalnya, Penangkapan Pangeran Diponegoro (1858), kini menjadi koleksi Istana Negara Jakarta.
2. B.J. Habibie – Insinyur Pesawat Terbang yang jadi Wakil Presiden Direktur di Jerman.
B.J. Habibie adalah orang Indonesia paling sukses yang pernah berkarir di Jerman, ia menjadi satu-satunya orang Asia yang menjabat Vice President sekaligus Direktur Teknologi di perusahaan pesawat terbang Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) pada periode 1973-1978, sebelum kembali ke Indonesia dan akhirnya menjadi Presiden RI ketiga.
Perjalanan Pendidikan dan Karier di Jerman
Habibie kuliah di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen sejak 1955, mengambil jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi Pesawat Terbang.
- Lulus Diploma Ingenieur pada 1960 dengan predikat cumlaude.
- Meraih gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude, nilai rata-rata 10 salah satu pencapaian akademik tertinggi yang tercatat di kalangan mahasiswa asing di Jerman saat itu.
- Bekerja di Hamburger Flugzeugbau (HFB), lalu Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) yang berpusat di Hamburg
Ia dijuluki “Mr. Crack” karena teorinya soal crack propagation on random metode menghitung keretakan struktur pesawat hingga level atom, yang kemudian dikenal dunia penerbangan sebagai “Habibie Factor”, “Habibie Theorem”, dan “Habibie Method”. Pada tahun 1968 Habibie merekomendasikan sekitar 40 insinyur Indonesia untuk turut bekerja di MBB sebuah langkah strategis untuk mempersiapkan SDM industri dirgantara nasional.
Kembali ke Indonesia
Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman untuk membujuk Habibie pulang. Habibie setuju pada 1974, meski tetap bolak-balik ke Jerman hingga 1978 karena masih menjabat di MBB. Sepulangnya, ia memimpin pembangunan industri penerbangan nasional (PT IPTN) dan kemudian menjadi Menteri Riset dan Teknologi (1978–1998), Wakil Presiden (1998), dan Presiden RI ketiga (1998–1999).
3. Johny Setiawan – Astronom Penemu Lebih dari 10 Planet di Max Planck Institute for Astronomy.
Johny Setiawan adalah astrofisikawan Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA) di Heidelberg, Jerman, dan dikenal sebagai penemu lebih dari 10 planet ekstrasurya (exoplanet) sejak 2003. Lahir di Jakarta pada 16 Agustus 1974, Johny pindah ke Jerman pada 1992 untuk kuliah. Ia menyelesaikan S1 dan S3 di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg, tercatat sebagai salah satu lulusan termuda di kampus tersebut, dengan gelar doktor summa cum laude pada usia 28 tahun.
Penemuan-Penemuan Pentingnya
- HD 11977 b (2005) – ditemukan bersama tim astronom Eropa dan Brasil yang ia pimpin.
- TW Hydrae b – planet pertama yang ditemukan mengorbit bintang sangat muda (usia 8–10 juta tahun) dipublikasikan di jurnal Nature.
- HIP 13044 b (2010) – planet yang mengorbit bintang tua minim logam dari luar galaksi Bima Sakti, dinobatkan sebagai salah satu dari 10 penemuan sains terbaik 2010 versi majalah Time.
- HIP 11952 b dan c – bagian dari sistem keplanetan tertua yang pernah ditemukan, berusia sekitar 12,8 miliar tahun.
Yang membuat pencapaiannya istimewa, ia dipercaya memimpin tim riset di MPIA meski bukan warga negara Jerman sebuah kepercayaan yang jarang diberikan kepada peneliti asing di institusi riset elite tersebut.
4. Hutomo Suryo Wasisto – Pemimpin Riset Nanoteknologi di TU Braunschweig.
Dr. Ing. Hutomo Suryo Wasisto adalah ilmuwan diaspora Indonesia yang menjabat Research Group Leader (setara asisten profesor) di Technische Universität Braunschweig, Jerman, dan dijuluki “Habibie Muda” karena mendapat fasilitas riset serupa dengan yang pernah diperoleh B.J. Habibie.
Akrab disapa “Ito”, ia tercatat sebagai salah satu peraih gelar doktor termuda di Jerman. Saat ini ia memimpin grup riset di dua lembaga sekaligus:
- Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA)
- Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig
Ia memimpin proyek riset bernama “OptoSense” (Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing) dan berperan sebagai Initiator and Chief Operating Officer di Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano) lembaga yang ia bangun untuk menjembatani akademisi Indonesia mendapatkan akses ke riset Jerman, sekaligus mendorong mereka kembali berkontribusi di Tanah Air.
Kisah empat tokoh di atas menunjukan bahwa orang Indonesia mampu bersaing dan berprestasi di Jerman. Mulai dari seni, dirgantara, astronomi, hingga nanoteknologi. Kerja keras dan dedikasi mereka menjadi bukti nyata bahwa talenta Indonesia bisa bersaing di panggung dunia, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda berani berkarya secara global.





